Posts

Pulang Kampung dan Mudik bersama Jokowi: Philosophical Reaction

Image
Dalam pandangan filsafat bahasa pasca-strukturalis, ada relasi dinamis antara makna dengan kata.. Jangan cari makna “pulang kampung” dan “mudik” di Kamus dalam bereaksi terhadap ujaran Presiden Jokowi. Makna dalam kamus dirumuskan dari realitas sebelum kamus itu ditulis, setelah kamus itu ditulis dan diterbitkan, hubungan kata dan realitas berjalan dinamis yang memungkinkan perubahan makna. Karena makna tidak hidup dalam kamus, tapi ia bersemayam dalam diri “penutur” yang berhadapan dengan berbagai “realitas”. Penutur punya posisi sosial, ekonomi dan politik, seperti Presiden, dengan berbagai pikiran dan kepentingan yang diusungnya. Pada awalnya, “mudik” lebih mendeskripsikan realitas zahiriah pergerakan dari hilir ke udik (hulu) bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai; begitu juga “pulang kampung”, dari “kota” ke “kampung.” Setelah itu mudik dan pulang kampung lebih banyak dipakai dalam artian majazi, metafora, karena ada yang pulang dari kota ke kota lainnya, bukan ke...

ETIKA: Utilitarianisme, Deontologi & Virtue Theory

Image

TOLERANSI BERAGAMA DAN TETAP BERTEMAN

Oleh: Zainal Fikri Bagaimana caranya tetap berteman dengan pemeluk agama lain tanpa meninggalkan ajaran kita sendiri? Bahasa antropologinya, berteman dengan tetap mempertahankan identitas masing-masing. Bahasa Indonesianya, Bhinneka Tunggal Ika, yatu kita ini berbeda namun tetap berteman (bersatu jua). Bahasa Islamnya,pada wilayah teologis lakum dinukum waliya din, tapi pada wilayah sosial kita tetap temanan yach…. Toleransi beragama itu, jika ingin tetap berteman (tidak saling lapor ke polisi), mempunyai tiga unsur sebagai dasar bangunnya: (1) ADANYA PERBEDAAN: adanya perbedaan (disagreement) baik pendapat, keyakinan, atau praktek dengan pemeluk agama lain; (2) TIDAK ADA PAKSAAN: tidak memaksa penganut agama lain setuju dengan kita/tidak memaksa penganut agama lain mengikuti pendapat, keyakinan atau praktek agama kita/tidak meminta penganut agama lain menghapus pendapat, keyakinan, atau praktek agama mereka/tidak memaksa penganut agama lain meninggalkan keyakinan mereka/tid...

APAKAH UAS MENGHINA SESEMBAHAN AGAMA KRISTEN?

Oleh: Zainal Fikri Menurut saya, saling memahami antar umat beragama mesti berdasarkan atas pengetahuan atas agama sendiri dan pengetahuan agama lain, bahasa kerennya “religious literacy”. Kita perlu belajar agama lain biar tidak salah memahami pandangan penganutnya. Salah satu yang perlu kita ketahui adalah apakah, menurut Kristen, salib itu sesembahan atau berhala? Karena ada sebagian orang Islam yang menuduh UAS menghina sesembahan agama Kristen. Sebagian orang Islam mengkritik bahkan menuduh UAS telah menista agama Kristen. Menurut mereka Al-Quran surat Al-An’am 108 melarang memaki sesembahan-sesembahan (ilah, alihata) agama lain. وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمۡ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرۡجِعُهُمۡ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٠٨ 108. Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki ...

AGREE IN DISAGREEMENT DAN PENISTAAN AGAMA (UAS, SALIB, PATUNG, JIN KAFIR)

Oleh: Zainal Fikri Salah satu prinsip hubungan antar-agama agar tidak saling lapor “menista agama” adalah sepakat dalam perbedaan (agree in disagreement). Kristen dan Islam (bersama Yahudi yang dalam dunia akademis disebut sebagai agama-agama serumpun Ibrahim--Abrahamic Religions) banyak membahas hal-hal yang sama namun berbeda dalam meyakininya. Dalam ajaran Islam (dalam Qur’an dan Sunnah) banyak membahas tentang Injil, Yesus (Isa Al-Masih), serta Salib. Misal, dalam Kristen “Yesus adalah Putra Allah (Anak Allah), Yesus adalah Tuhan Allah.” Sementara dalam Islam “Yesus (Isa) adalah seorang Nabi, bukan anak Tuhan, bukan Tuhan.” Dalam Kristen, Yesus mati karena penyaliban. Dalam Islam, Yesus (Isa) tidak disalibkan tetapi secara jasmani diangkat ke Surga oleh Allah. Kalau ada seorang ustadz ceramah: “Yesus (Isa) bukan anak Tuhan, bukan Tuhan, tapi hanya seorang Nabi?” Apakah ustadz itu menista agama Kristen. Karena menurut Kristen, Yesus itu putra Allah. Jika pihak Kristen tid...

KITAB SUCI ROCKY GERUNG, FIKSI & BERWARNA POSITIVISME LOGIS

Image
TELAH TERBIT KITAB SUCI BARU, KITAB SUCI ROCKY GERUNG, FIKSI & BERWARNA POSITIVISME LOGIS Oleh Zainal Fikri (Dosen Filsafat UIN Antasari Banjarmasin) Kitab Suci Fiksi “Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci itu fiksi.”( Rocky Gerung) Proposisi kondisional ini berisi dua kalimat: Anteseden: Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi Konsekuen:  kitab suci itu fiksi Kalau Anda mau membatalkan dalil ini, menurut RG, Anda harus batalkan konsekuen, bukan anteseden. Dalam logika, mengingkari atau membatalkan konsekuen disebut “Modus Tollens”, bentuk formalnya adalah: Jika P, maka Q. bukan Q. Bukan P. P1) Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci itu fiksi P2) Kitab suci itu tidak/bukan fiksi --------------------------------------- C) Fiksi itu tidak mengaktifkan imajinasi Pada pernyataan RG tentang kitab s...

Kesesatan Berfikir (Fallacy) Silogisme Rocky Gerung tentang Kitab Suci itu Fiksi

Kesesatan/Fallacy : Term Tengah Tidak Berdistribusi/Undistributed Middle Kesesatan Berfikir (Fallacy) Silogisme Rocky Gerung tentang Kitab Suci itu Fiksi Dalam silogisme Rocky Gerung yang menyimpulkan “Kitab suci itu fiksi” terdapat tiga (3) term. Yaitu: “fiksi”, “mengaktikan imaginasi”, “kitab suci”. Ada empat hukum silogisme mengenai term, salah satunya adalah “Hukum Distribusi (Rule of Distribution)”, Yaitu: “Tem tengah (M) setidak-tidaknya satu kali harus berdistribusi (The Middle Term Must Be Distributed at Least Once)” Term berdistribusi (distributed term) adalah term dalam proposisi kategoris yang digunakan untuk menyebut setiap anggota kelas. Jika term itu tidak digunakan untuk menyebut setiap anggota kelas, term itu disebut tidak berdistribusi (undistributed) Jika term tengah (M) dalam silogisme tidak berdistribusi, maka silogismenya tidak VALID/SAHIH dan konklusinya SALAH/TIDAK BENAR. Bentuk formalnya bisa sebagai berikut: P=M S=M ------------ S=...